Wednesday, November 01, 2006
Di suatu desa, ada seorang pemuda yang berkeinginan untuk memindahkan gunung kerikil dari satu sisi sungai ke sisi (seberang) sungai yang lain. Orang-orang di sekitar pemuda tadi –seperti biasa—mencemooh, menghina, dan meremehkan keinginannya tersebut.Mission impossible. Mungkin frase itu yang paling tepat menggambarkan keinginan si pemuda tadi. Suatu misi yang ngga mungkin dapat dilaksanakan.
Tapi apa yang dilakukan pemuda itu? Bila ia hendak menyeberang ke sisi sungai yang satu, ia melemparkan satu kerikil. Sederhana, hanya satu kerikil.
Hari berganti hari, pekan berbanti pekan, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Akhirnya gunung kerikil tadi telah berpindah ke seberang sungai.
Teman, mission yang katanya impossible itu is complete. Pemuda tadi berhasil memindahkan gunung kerikil ke seberang sungai. Mungkin kamu berpikir: “kenapa melempar kerikilnya cuma satu ya? Kenapa ngga banyak sekalian biar cepet selesainya?” Atau “Kenapa ngga dipaketin aja itu gunung kerikil?”@#$%%^&*
Pemuda tadi “hanya” melempar satu kerikil, karena ia tahu dengan begitu ia bisa konsisten (istiqomah) untuk melakukan keinginannya itu. Dengan begitu ia bisa disiplin untuk melempar “hanya” satu kerikil. Satu pekerjaan yang tidak terlalu berat bukan?
Teman, kita semua punya cita-cita. Kita semua punya impian. Entah itu punya harta melimpah, jadi orang pandai, hapal Qur’an de-es-be. Dan satu-satunya kesalahan kita adalah kita ngga pernah mau MULAI melempar kerikil-kerikil itu. Kita ngga pernah mulai melangkah.
Ayo temanku, mulailah dengan apa yang terlihat mudah untuk kita lakukan. Ngga usah ngoyo (maksain diri) yang penting konsisten.
















Jadi terinspirasi..
TerimaKasih :-)
Leave your response